This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

7/15/2014

Candidates Prabowo Team Claims, journalist Allan Nairn will be reported to the Police

Allan Nairn
JAKARTA - Team candidate Prabowo - Hatta have reported an American investigative journalist Allan Nairn to the Criminal Investigation Police. Allan accused of slander against presidential candidate Prabowo through the writings and statements in the media.

According to the Secretary Prabowo-Hatta winning team, Fadli Zon legal action is not merely an attempt to clear the name of Prabowo alone. Stressed, Allan Nairn reporting primary purpose is to protect the country's sovereignty from foreign interference.

7/14/2014

Orwell akan mengenali logika postkolonialisme bermain di Papua Barat

Theguardian.com,

Dalam banyak hal, perjuangan Papua Barat adalah kisah masyarakat adat di seluruh dunia: eksploitasi

"Hanya sedikit orang yang tahu bahwa George Orwell, yang lebih dikenal sebagai penulis novel dystopian 1984, adalah salah satu pendiri awal studi postkolonial. Kontribusi Orwell terbaik dikenal ke lapangan adalah hari Burma, tetapi kontribusinya yang paling awal adalah Bagaimana Bangsa Apakah Exploited - The British Empire di Burma. Diterbitkan dalam jurnal Perancis Le Progres civique, Orwell menggambarkan bagaimana lahan, tenaga kerja dan sumber daya dari satu negara - yaitu, Burma - digunakan untuk membiayai pengembangan industri lain - dalam hal ini, Inggris.
"Perawatan diambil untuk menghindari pelatihan teknis dan industri [di Burma]. Aturan ini, diamati di seluruh India, bertujuan untuk menghentikan India dari menjadi negara industri yang mampu bersaing dengan Inggris."

Peran koloni, kemudian, adalah di bawah pembangunan demi pembangunan penjajah itu. Ini adalah logika kolonialisme.

Orang mungkin berpikir ini hanyalah kepentingan sejarah. Kalau saja. Ada sebuah negara industri baru di depan rumah kami dan itu adalah menggunakan koloni untuk membiayai pertumbuhannya. Orwell akan mengakui penjajah yang - Indonesia - dan logika kolonialisme di wilayah Papua Barat.

Indonesia menganeksasi Papua Barat pada tahun 1960. Jadi mulai dan dengan demikian melanjutkan perjuangan postkolonial mematikan di Oceania. Dalam setengah abad terakhir pasukan keamanan Indonesia telah menewaskan sebanyak 500.000 orang Papua Barat. Tahun lalu Asian Human Rights Commission dirilis Genosida The Terabaikan, laporan tentang kekejaman yang dilakukan pada tahun 1977 dan 1978. Korban menjelaskan bagaimana mereka lolos dari ladang pembunuhan sementara yang lain menceritakan mereka berjalan-in dengan regu penyiksaan. Kekerasan bukan hanya sesuatu yang terjadi di Papua Barat, itu adalah bentuk pemerintahan.

Orang akan berharap bahwa, sekitar 40 tahun kemudian, semuanya telah membaik. Rasanya tidak begitu. Menurut Organisasi Papua Merdeka Barat pemimpin kemerdekaan lokal ditembak mati pada sepeda motor pada bulan Juni. The UNPO melaporkan bahwa aktivis demokrasi lokal telah dipukuli dan ditangkap karena membagi-bagikan selebaran mendorong orang Papua Barat untuk memboikot pemilihan presiden pekan lalu. Dalam jangka sampai dengan pemilihan pasukan keamanan disiagakan penuh.

Tapi mengapa Indonesia berpegang teguh Papua Barat? Dasar klaim Indonesia terhadap kedaulatan adalah Act of Free Choice lucu "pada tahun 1969 tindakan adalah referendum nominal di mana sedikit lebih dari 1000 pria -. Kurang dari 1% dari populasi pemilih yang memenuhi syarat - setuju untuk mengalihkan kedaulatan kepada Indonesia. Hasilnya dikontrol - suatu tindakan pilihan paksa - dengan militer hati-hati memilih dan memaksa para peserta. Pemerintah Indonesia telah melaksanakan klaim kedaulatan pada akhir senapan serbu sejak itu.

Tapi klaim itu hanya kenyamanan. Papua Barat etnis Melanesia dan geografis bagian dari Oseania - Jakarta mengakui ini banyak - tapi, penting, wilayah Papua Barat adalah rumah bagi tambang emas terbesar di dunia, tambang tembaga terbesar ketiga dan deposit mineral yang kaya. Freeport-McMoRan, perusahaan Amerika yang beroperasi tambang Grasberg, adalah pembayar pajak terbesar di Indonesia. Perusahaan ini telah memberikan kontribusi lebih dari $ 12 miliar menjadi pundi-pundi Jakarta sejak tahun 1991. Daripada mengandalkan keamanan swasta di tambang, Freeport-McMoRan membayar pasukan keamanan Indonesia. Jakarta adalah senang untuk membantu.

Orwell akan mengenali logika kolonialisme di sini. Papua Barat sebagian besar telah melewatkan revolusi industri Indonesia, bukan dipaksa untuk membiayainya. Dalam banyak hal perjuangan Papua Barat adalah kisah masyarakat adat di seluruh dunia: eksploitasi.

Mantan Perdana Menteri Australia Robert Menzies memperingatkan sebanyak pada tahun 1960 ketika ia mengatakan bahwa kekuasaan Indonesia dari Papua Barat hanya akan menggantikan kolonialisme putih untuk "kolonialisme coklat". Kami tidak mendengarkan kemudian, akan kita dengarkan sekarang?

Published: The guardian.com
 
Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

Amnesty International, Indonesia: UN Committee calls for better protection of child rights


By Document Type

Annual Reports

Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

7/13/2014

NGO Report Via UNHCR for Indonesia State

Papuan Activist
 Indonesia

7/12/2014

West Papua pada festival Seni Budaya Melanesia


Papuan Activist
Oleh Jonas Cullwick in Daily Vanuatu

Sebuah delegasi besar dari Papua Barat berpartisipasi dalam Melanesian Festival 5th Seni dan Budaya di Port Moresby, diselenggarakan oleh Papua Nugini, yang di minggu kedua dan akhir pekan ini. Hal ini dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Vanuatu Joe Natuman yang berada di Port Moresby untuk menghadiri Melanesian Spearhead Group (MSG) Pemimpin Summit khusus, yang bertepatan dengan pembukaan festival seni dan budaya.

6/15/2014

Pemantau PBB Didesak Untuk Diizinkan Masuk Provinsi Papua di Indonesia

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

3/09/2014

Oceania Interrupted, Dari Bangsa Maori Untuk Perjuangan Bangsa Papua Barat

  
Jayapura, 9/3 (Jubi) – Sebuah aksi intervensi masyarakat Maori di New Zealand untuk mendukung perjuangan Rakyat Papua Barat dilakukan ditengah Festival Pasifika di Auckland.

Aksi yang disebut Oceania Interrupted Action 3 Free Pasifika – Free West Papua ini dilakukan oleh 14 orang perempuan Maori, yakni Marama Davidson, Ruiha Epiha, Talafungani Finau, Leilani Kake, Moe Laga-Fa’aofo, Genevieve Pini, Amiria Puia-Taylor, Leilani Salesa, Luisa Tora, Mele Uhamaka, Asenaca Uluiviti, Leilani Unasa, Julie Wharewera-Mika, Elyssia Wilson-Heti.

Aksi ini, menurut salah satu penampil, dilakukan sebagai intervensi publik dalam Festival Pasifika ini, untuk memberi dukungan bagi perjuangan rakyat Papua menentukan nasibnya sendiri.

“Mulut kami yang ditutup dengan bendera Bintang Kejora adalah simbol pembungkaman di Papua Barat.” kata Marama Davidson, salah satu penampil, kepada Jubi. Minggu  (9/3) melalui sambungan telepon.

Keempatbelas perempuan Maori ini memang menutup mulut mereka dengan Bendera Bintang Kejora ukuran kecil dan mengenakan pakaian adat Maori.

“Kebebasan kami sebagai orang Māori dan perempuan Pasifik di Aotearoa, Selandia Baru terikat dengan saudara-saudara Pacific kami di Papua Barat.” tambah Julie Wharewera-Mika, penampil lainnya.

Menurut Julie dan Marama, tangan mereka yang terikat melambangkan terkekangnya kebebasan rakyat Papua Barat.
 

Dalam aksi ini, para penampil hanya bergerak secara minim dan tanpa suara. Ini untuk melambangkan kurangnya kebebasan berekspresi dari pendapat politik, kurangnya akses ke sumber daya yang adil dan merata, kurangnya akses ke media yang bebas dan independen yang dialami rakyat Papua Barat. Sementara tubuh para perempuan Maori ini dihiasi dengan warna hitam untuk merayakan eksistensi perempuan sekaligus sebagai simbol berkabung

Aksi Oceania Interrupted Action 3 Free Pasifika – Free West dilakukan Sabtu, 8 Maret kemarin di Western Springs Lakeside Park, Auckland. Ribuan orang datang ke Auckland untuk menyaksikan Festival Pasifika yang dipusatkan di Western Springs Lakeside Park. (Jubi/Victor Mambor)
 
Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

12/08/2013

Amnesty Internasional: Indonesia: Investigate Ill-treatment of Protesters and Intimidation of Journalists in Papua

Amnesty International is concerned about allegations that police ill-treated protesters involved in a proindependence protest in Papua as well as intimidated journalists who were covering it.

On 26 November, police arrested at least 28 political activists including three women who participated in a pro-independence protest in Waena, Jayapura organized by the West Papua National Committee (Komite Nasional Papua Barat, KNPB). According to a human rights lawyer who saw them in detention at the Jayapura City police station, there were indications that they had been beaten after they were arrested. Some of the detainees had bruises or swelling on their mouth, eyes, forehead and body. At least 12 people are still in police custody.

The authorities must ensure that all those who are detained have access to lawyers of their choosing and that those who are suffering injuries have immediate access to medical treatment. The authorities must also ensure a prompt, thorough, and effective investigation into the allegations of ill-treatment by the police and ensure that those suspected of involvement, including persons with command responsibility, are prosecuted in proceedings which meet international standards of fairness. Victims should also be provided with reparations.

Amnesty International continues to receive credible reports of human rights violations committed by
the security forces in the provinces of Papua and West Papua, including torture and other ill-treatment, unnecessary and excessive use of force and firearms and possible unlawful killings. Investigations into such reports are rare and only few perpetrators have been brought to justice. The lack of accountability and the failure to criminalize acts of torture in the Criminal Code contributes to this culture of impunity.

Our organization is also concerned that the Jayapura City police personnel reportedly intimidated at
least three journalists while they were covering the KNPB protest in Jayapura. Police personnel approached them and hit one of the journalists in the head. Police also attempted to grab their cameras and told them to leave the area. One of the journalists was intimidated by the police to delete photos he had taken of the protest.

Journalists play a crucial role in exposing human rights violations and abuses, especially in Papua where authorities restrict access to international observers, including human rights organizations and journalists. Harassment, intimidation and attacks against journalists and human rights defenders can have a chilling effect, and can contribute to a climate of impunity. Amnesty International calls on the authorities to investigate all allegations of attacks, intimidation and harassment of journalists in Papua and ensure they – and others – are not obstructed from conducting their legitimate work.

Amnesty International does not take a position on the political status of Papua, or any other province of Indonesia. However, people in Papua and elsewhere in Indonesia should be able to peacefully express their views free from harassment, threats and the fear of criminalization. Our organization believes that the right to freedom of expression includes the right to peacefully advocate referendums, independence or any other political solutions that do not involve incitement to discrimination, hostility or violence.


Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

12/04/2013

Crackdown on West Papua activsts spreads beyond Indonesia’s borders


Jen Robinson
Indonesia's crackdown on West Papuan independence activists is spreading beyond it's borders into neighbouring Papua New Guinea. Local officials and activists say that Indonesia is applying pressure to PNG's government to quash activism on the issue.
Human rights lawyer Jen Robinson is better known for her role in defending Julian Assange, but for many years she's also provided support and representation for West Papuan activists. She joined The Wire on the line from Port Moresby.


Independence activists in Indonesia’s West Papua province have been the subject of violent attacks in the past few days, with one man reported dead, and others reported missing.
The crackdown has even extended into the neighbouring country of Papua New Guinea, where West Papuan activists have been arrested and questioned by PNG police, in the nation’s capital, Port Moresby.
Featured in story

Jen Robinson - Media and Human Rights Lawyer, and Director of Legal Advocacy, Bertha UK


Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

11/29/2013

Green MP to support West Papuan flag raising at Parliament

- Here Published

Green MP to support West Papuan flag raising at Parliament

What: Raising of the West Papuan ‘Morning Star’ flag to support West Papuan independence

Where: Parliament forecourt

Who: Peace Movement Aotearoa, other NGOs and supporters of West Papua, and MPs including Catherine Delahunty, Green Party MP and International Parliamentarian for West Papua.

The Green Party will be supporting the annual flag raising in solidarity with West Papua at 1pm at Parliament on Monday December 2nd. This event is organised by Peace Movement Aotearoa every December in recognition of the anniversary of West Papuan independence.

West Papua has been occupied by Indonesia since 1969 and citizens who raise the ‘Morning Star’ flag can be imprisoned for up to 15 years.

"A number of MPs from several parties are members of International Parliamentarians for West Papua, and we are proud to support this event," said Green MP Catherine Delahunty.

“The West Papuan people live under a brutal occupation and are imprisoned, tortured and even killed simply for speaking out about independence. By raising the ‘Morning Star’ flag we are making a statement in support of their right to self-determination.

“John Key and Murray McCully need to stand up for West Papuan human rights, not to collude with Indonesian oppression for the sake of trade,” said Ms Delahunty


Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

10/22/2013

TNI/Polri: Teror dan Intimindasi Terhadap Asrama Mahasiswa Papua

JAYAPURA 22 OKTOBER 2013. Sungguh ironis dan sagat mengerikan kondidi terakhir ini sangat memperihatinkan, teror dan intimidasi terhadap rakyat Papua Barat terus terjadi. Teror dan intimindasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan TNI di papua bukan hanya terjadi terhadap masyarakat, sipil namun juga dirasakan oleh mahasiswa di linggungan kampus maupun asrama.

Hal ini telah terbukkti teror dan intimindasi oleh Anggota TNI/POLRI pada hari ini selasa 22 oktober 2013 di asrama uncen (Rusenawa ) perumnas III waena pada pukul 05.15 WPB subuh.
Sesuai laporan saksi mata dan juga sebagai Ketua asrama rusenawa Uncen Tanius komba menyelaskan bahwa, Pada pukul 05.15 WPB Aparat kepolisian dari pos penjagan perumnas III bersama anggota TNI datang menggunakan Motor dengan membawa senjata lengkap masuk di halaman gedung asrama uncen (rusenawa).
Melihat tersebut para penghuni asrama yang bagun lebih dulu keluar untuk menanyakan kedatangan para aparat kepolisian dan anggota TNI tersebut, namun para anggota TNI tanpa kompromi dengan pengurus maupun penghuni asrama langsung mengeluarkan tembakan sebanyak 5 kali, sehingga mahasiswa yang sedang tidur terbagun lalu semua keluar dari kamar masing-masing dan cari jalan masing masing-masing karena ketakutan.
Melihat hal tersebut Ketua asrama Tanius Komba bersama Mael Alua dan pengurus lainya berusaha mendekati para anggota TNI yang terus mengeluarkan tembakan tersebut, namun para anggota TNI dan polisi bukanya kordinasi dengan pengurus malah mengancam tembak ketua asrama. Dan terus melakukan penembakan ke arah asrama, para anggota TNI tersebut mengeluarkan tembakan di asrama sebanyak 9 kali penembakan namun untung tidak ada mahasiswa yang kena tembakan tersebut.
Pada hal ketua asrama Tanius Komba  dan anggota lainya tersebut hanyalah berniat baik menanyakan kedatangan mereka (TNI/POLRI)  itu untuk cari siapa dan juga ada masalah apa di asrama sehingga para aparat tersebut datang dengan peralatan lengkap dan tembak-tembak sembarang di halaman asrama.
Namun para aparat menghiraukan upaya yang dilakukan pengurus asrama dan terus mengacam dan melakukan tembakan ke arah asrama. Melihat ancaman tersebut Ketua asrama membangunkan semua penghuni yang sedang tidur dan  memanggil penghuni yang sedang lari berhamburan keluar dari kamar masing-masing karena takut mendengar tembakan yang dikeluarkan oleh anggota TNI tersebut.
Anggota TNI/ Polri yang datang di asrama tersebut berjumlah sekitar 5-7 orang, masing masing Anggota TNI berpakian preman dengan senjata lengkap sekitar 5 orang sedangkan anggota polisi 2 orang berpakian pereman juga.

Para anggota tersebut melihat semua penghuni beteriak keluar dari kamar masing-masing dan semua kumpul di halaman asrama baik perempuan maupun laki-laki, lalu para penghuni asrama bersama pengurus mendekati mereka namun para aparat tersebut lari meninggalkan tempat atau asrama.

Melihat kejadian tersebut mengancam keamana para penghuni asrama sehingga badan pengurus asrama mengumpulkan semua penghuni baik dari asrma unit satu samapai degan unit enam dan penghuni Rusunawa menuju gapura uncen perumnas III untuk palang kapus guna protes terhadap tindakan atau ancaman dan teror yang dilakukan oleh Anggota TNI/POLRI.

Pada pukul 06.00 WPB semua penghuni asrama Unit satu sampai unit enam dan seluruh penhuni rusenawa kumpul di kapura uncen dan palang kampus,  karena menurut pengamatan mereka teror dan intimidasi tersebut bukan hanya baru terjadi sekali namun sudah sering terjadi oleh aparat kepolisian maupun TNI, yang terjadi hari ini adalah yang ke 5 kali sehingga penghuni asrama melakukakan pemalangan kampus dan para mahasiswa juga sempat bikin api unggu  di pintu masuk kapura Uncen perumnas 3 waena .

Lalu para mahasiwa tersebut melakukan orasi-orasi menggunakan mengapone, aksi porotes terhadap teror dan intimindasi tersebut dipimpin lagsung oleh badan pengurus asrama rusenawa Tanius Komba dan Ismael Alua, dalam orasi-orasinya para mahasiswa tersebut meminta agar Rektor Universitas Cendrawasih Uncen , Kapolda Papua, Dandim Pangdam Walikota serta Kapolresta kota jayapura hadir untuk mempertaggung jawabkan dan juga memberikan penyelasan kepada mahasiswa tentang tidakan teror dan intimidasi yang dilakukan oleh aparat tersebut.

 Namun pangdam, dandim, walikota serta Kapolda tidak hadir ditempat karena mereka berada diluar jayapura sehingga yang  pada pukul 09 30 WPB Kapolesta dan rektor yang hadir di tempat mahasiswa melakukan demo damai tersebu. Setelah kapolresta kota jayapura AKBP Alfret Papare  dan Rektor Unsen prof. Dr.Karel Sesa M.si hadir di tempat para mahasiswa menyampaikan beberapa tuntutan diantaranya :

  1. Para mahasiswa uncen Penghuni asrama perumnas III tersebut mendesak kepada Polreta kota jayapura segera Tutup Pos Penjagan yang ada di perumnas III waena
  2. Mendesak kepada Pangdam dan Dandim segera menarik Anggota TNI yang menjaga pos di perumnas III dan pos penjagaan TNI tersebut harus dittup
  3. Mendesak kepada Rektor lembaga uncen menjamin keselamatan mahasiswa penhuni asrama Uncen Unit 1 sampai unit 6 dan Asrama Rusenawa.
  4. Para Mahasiswa penghuni asrama juga mendesak untuk segera melakukan penada tanganan diats Hitam Puti dari masing pihak yaitu; antara Mahasiswa, Rektorat Dandim dan Polresta Kota Jayapura untuk penutupan dua pos penjagaan baik pos TNI maupun  POLI yang ada di perumnas 3 Waena.

Setelah melakukan kesepakatan antara mahasiswa, Rektorat dan kapolresta lalu pada pukul 10.15 masa demo mahasiswa membubarkan diri secara tertib dan aman
 





 

9/29/2013

PM Australi Didesak Perlu Menempatkan Issu HAM di Papua Barat Dalam Agenda Jakarta

Perdana Menteri Tony Abbott telah didesak untuk menggunakan kunjungan pertamanya ke Indonesia besok untuk menyingkirkan yang disengaja kebutaan Pemerintah Australia sebelumnya telah ketika datang ke pelanggaran berat hak asasi manusia yang terjadi sepelemparan batu jauhnya di provinsi Papua, Indonesia .

Direktur Hukum Hak Asasi Manusia Centre Komunikasi , Tom Clarke , mengatakan kedatangan tujuh pencari suaka dari propinsi Papua bergejolak di Indonesia dan penghapusan cepat berikutnya mereka , harus menjadi pengingat harapan bagi Australia untuk memberikan kepemimpinan hak asasi manusia di wilayah kami .

9/02/2013

TPN Bertanggung Jawab Atas Penembakan di Puncak Jaya

Jayapura - Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) yang merupakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Jenderal Goliat Tabuni bertanggungjawab atas tertembaknya anggota TNI di Distrik Tinggineri, Puncak Jaya, Sabtu (31/8) sekitar pukul 14.00 WIT.
Seperti yang dikutip Holandian News dari Berita satu Goliat Tabumi memprediksi ada 3 anggota TNI yang tertembak saat itu. "Kami tidak akan mundur untuk tanah kami," ujarnya.
"OPM adalah organisasi resmi dan kami terus akan berjuang apapun risikonya. Indonesia lakukan saja penyerahan kekuasaan, karena kami sudah merdeka,"tegasnya.
Pratus Andre tewas setelah terkena tembakan dibagian perut. Saat tertembak, ia sempat dilarikan ke RSUD Mulia di ibu kota Kabupaten Puncak Jaya untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun sekitar pukul 22.00 WIT, Pratu Andre meninggal.
Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel (Inf) Lismer Lumban Siantar mengatakan, seorang anggota Satgas Yonif 753, Pratu Andre Chandrayansyah tewas ditembak kelompok sipil bersenjata (KSB).
Kejadian itu berawal saat anggota Satgas Yonif 753 melakukan pengamanan rutin pada jalur logistic di Distrik Tinggi Nambut.
 

8/26/2013

Parlemen West Papua Siap Sambut Delegasi MSG

KNPB
Parlemen Nasional West Papua (PNWP) selaku badan representasi rakyat West Papua akan menyambut kedatangan para delegasi Melanesian Spearhead Groups (MSG) dengan cara dan khas budaya Papua, juga merupakan bagian dari meningkatkan kekerabatan antar bangsa Papua dan bangsa serumpun Melanesia.

Hal itu dikatakan oleh Ketua PNWP, Buchtar Tabuni pada aksi Parade Budaya Papua yang dilakukan di Jayapura bahkan berlangsung secara serempak di seluruh Wilayah West Papua. Dalam pernyataan itu, Buchtar menyampaikan bahwa aksi Parade budaya ini dilakukan sebagai pra penyambutan Para Menteri Luar Negeri dari negara-negara Melanesia yang berencana berkunjung ke West Papua sesuai keputusan pertemuan MSG di Kanaky.

“PNWP bersama KNPB sedang mempersiapkan penyambutan para delegasi MSG, kami akan menyambut mereka dalam kondisi apapun. Mereka harus mendengar dan melihat sendiri apa kemauan rakyat West Papua”, ucap Buchtar.

Sementata itu, KNPB melalui Juru Bicara Wim Rocky Medlama menyatakan KNPB akan siap melakukan perintah Parlemen sebab mereka adalah representasi perjuangan resmi rakyat West Papua. (cia/knpbnews)
Nonton pernyataan sikap PNWP oleh Buchtar Tabuni disini  http://youtu.be/JWwHD-dlOdQ


Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

Muhammad Kurita : Ada 5 warga Papua mengadu kepada sya terkait ancaman teror dan intimidasi dari Polisi (Brimob) Kaimana

Info Kaimana 22 Agustus 2013, Pada 1 Agustus 2013, 5 (lima) orang warga sipil Papua Barat mengahadap Ketua PRD Kaimana MUHAMMAD KURITA dengan sebuah pengaduan terkait kasus teror oleh anggota Brimob yang bertugas di Perusahan Kayu PT. Ukira Sari yang sedang beroperasi di Kampung Wagura Distrik Sarbek Kabupaten Bintuni. 5 (lima) orang yang bertemu ini terdiri dari 2 (dua) Orang Korban teror yakni Alphius Werfete dan Yohanis Waita, dan 3 (tga) orang saksi antara lain Melkianus Waita, Stepanus Waita dan Marinus Sisrafa.

Dalam perbincangan antara ketua PRD dan Pihak korban, Korban menyampaikan bahwa “ sudah sejak bulan lalu (juli) kami di kejar oleh anggota Brimob yang bertugas di Perusahan Kayu PT. Ukira Sari dengan alasan yang tidak jelas, dimana informasi yang sampai ke telinga kami membuat kami merasa resah dan ketakutan”. Lebih lanjut mereka menyampaikan bahwa ”
 
More>>

Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

Aksi Parade Budaya Papua di Biak

Biak, KNPBnews -Ratusan Rakyat Papua Barat yang di mediasi oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Biak, siang kemarin, Kamis (15/8/2013), menggelar parade budaya untuk mendukung pembukaan kantor Papua Merdeka di Hague, Belanda, dan menyatkan terima kasih kepada MSG atas keputusannya mendukung hak Penentuan Nasib sendiri rakyat West Papua serta menyampaikan selamat datang kepada misi MSG ke West Papua.
Aksi damai berupa parade budaya berlangsung di dua titik kumpul yaitu, Bundaran Pasar Lama Biak dan Terminal Pasar Darfuar dan berakhir dan melaukan parade bersama di Pendopo Adat Sorido
Apolos Sroyer , 
Ketua KNPB Biak menyampaikan, dalam parade ini Rakyat Papua mendeklasikan Tuan Oridek Ap, yang beralamat di Netherlands sebagai Koordinator Kantor Free West Papua Campaingn di Kerajaan Netherland, dengan tiga tugas dan kewenangan mengelola dan menjalankan managemen dan administrasi perjuangan hak penentuan nasib sendiri rakyat West Papua pada Kantor Free West Papua di Netherland.


Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

Aktivis KNPB, Denny Hisage cs Bebas dari Penjara

 Jayapura, KNPBnews – Enam aktivis KNPB yang ditahan karena dugaan menyimpan amunisi, hari ini, Selasa (27/8) dibebaskan dari Penjara Indonesia, Abepura. Mereka menjalani persidangan selama 8 bulan tanpa saksi dan bukti pidana yang kuat.

Keenam aktivis KNPB yang dibebaskan adalah, Denny Imanuel Hisage (26), Anike Kogoya (23), Jhon Pekey (27), Rendy Wetapo (27), Jimmy Wea (26) dan Oliken Giay (27). Menurut dakwaan, mereka ditangkap karena menyimpan dan membeli amunisi, sehingga mereka diancam dengan Pasal 1 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 tahun 1951 Pasal 56 ke I  KUHP.

Kepada situs KNPB, Denny Hisage menyatakan kekesalan terhadap Polisi yang asal main tangkap dan mengurung mereka tanpa bukti pidana yang jelas. “Polda Papua asal tangkap aktivis KNPB tanpa bukti jelas. Kami jalani penyiksaan yang sangat berat saat ditangkap, dan selama diinterogasi di Polda Papua”, ucap Denny siang ini saat keluar dari Penjara.
 
Sementara itu, puluhan aktivis KNPB masih mendekam di penjara-penjara kolonial di seluruh wilayah Papua, termasuk Ketua Umum KNPB, Victor Yeimo. Mereka dipenjara dengan tuduhan yang tidak dapat dibuktikan di Pengadilan

Terima Anda Sudah Kunjungi Blog Alternatif KNPB, Jika Tidak Keberatan Apa Tanggapan Atau komentar Anda Tentang Berita ini?

7/29/2013

Issu Referendum Papua, Inggris Minta Presiden SBY Kunjungi Referendum Skolandia 2014

Baroness Warsi answered questions on behalf of the British Government
London,-- Anggota Parlement Inggris  Gedung Parlement mengadakan perdebatan tentang Papua Barat pada hari Rabu 24/7 waktu london,  di mana mereka mengangkat keprihatinan serius mengenai situasi hak asasi manusia di papua barat dan meminta pemerintah Inggris untuk mengambil langkah - langkah dan sikap yang lebih kuat.
"Dengan permintaan Referendum yang luar biasa dari masyarakat Papua untuk menentukan nasib sendiri, dan meminta pemerintah Inggris untuk mengundang Presiden Indonesia untuk mengunjungi Inggris tahun depan untuk referendum Skotlandia untuk kemerdekaan, untuk melihat bagaimana mereka menangani permintaan untuk penentuan nasib sendiri. Lord Avebury"
Lord Harries, yang memulai perdebatan, mencatat pola mengkhawatirkan penangkapan sewenang-wenang dan tahanan politik yang sedang berlangsung di provinsi Indonesia, mengutip bukti yang dikumpulkan oleh kelompok hak asasi manusia yang berbasis di London TAPOL.

Dia juga menantang pemerintah Inggris tentang pendanaan Densus 88, skuad elit kontra-teror yang diduga telah digunakan dalam penangkapan, penyiksaan dan penembakan aktivis politik di propinsi Papua.

Respon dari  pemerintah inggris di wakili oleh Menteri Senior Negara di Kantor Luar Negeri & Persemakmuran, Baroness Warsi.

Dalam tanggapannyai keprihatinan yang diangkat, Baroness Warsi mencatat tingginya tingkat kekhawatiran tentang kebebasan berekspresi dalam perdebatan itu, dan setuju bahwa kebebasan berekspresi di Papua Barat terlalu sering di bungkam dengan alasan keutuhan wilayah dan terotorial.

Dia menggemakan pernyataan dari semua orang yang berbicara dalam perdebatan itu, bahwa semua pihak yang memiliki kepentingan di masa depan Papua harus konstruktif untuk terlibat dalam dialog damai. 
More: 

7/01/2013

Purom O. Wenda: Memenuhi Janji Pengibaran Bintang Kejora Warnai HUT TPN-PB

Jayapura ,-- Bintang kejora, bendera Organisasi Papua Merdara (OPM) berkibar di Papua tepat hari ulang tahun organisasi itu, Senin 1 Juli 2013. Bendera itu berkibar di di Kampung Wandigobak Distrik Mulia atau 3 km di dekat Markas Polres Puncak Jaya tepat.

Selain pengibaran BK, rentetan lima kali tembakan juga dilakukan kelompok sipil bersenjata di daerah tersebut, Senin (1/7/2013).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi cuaca dalam keadaan berkabut, sehingga tidak diketahui arah datangnya tembakan dan tidak memungkinkan dilakukan pengejaran terhadap pelaku.

“Informasinya kelompok gangguan pengacau keamanan (GPK) di Papua itu dari kelompok Enggaranggo Wonda dan Purom Wenda. 
Sebelum melaksanakan aksinya, terlebih dahulu sudah berada di sekitar Distrik Mulia untuk memasang bendera dan memantau pos keamanan yang lengah. Sampai saat ini, anggota Brimob masih melaksanakan pengintaian di sekitar lokasi,” ujar salah seorang saksi, Senin (1/7/2013).


Sebelumnya, Purom O.Wenda Berjanji akan mengadakan Upacara dan Pengibaran Bendera Bintang Kejora dalam peringatan HUT TPN/OPM yang dikutif blog Suara Baptis Papua, 30/06 jayapura.

6/23/2013

Could West Papua be Abbott's East Timor?

Australia was instrumental in supporting East Timor's fight for independence in the 1990s. What role would an Australian Coalition government have in the move towards West Papuan independence, asks Tracee Hutchison.

When former prime minister John Howard and then foreign minister Alexander Downer began working toward East Timor's independence in 1999, history now tells us that they did so, initially, without letting on to the Indonesian government.

As the Australian government continued to publically support Jakarta's territorial claim over the resource-rich Indonesian province, privately the actions of Howard and Downer set in motion the makings of a new nation.

John Howard's leadership overseeing the UN-sponsored independence referendum and Australia's peacekeeping role in the fledgling nation remains, as he wrote in his biography Lazarus Rising, one of his proudest achievements and won him international acclaim. (Perhaps everywhere except Indonesia, where the issue of Timor Leste remains contentious).

More ...